Sejenak tampak seperti camp camp Nazi yang didalamnya menyembunyikan kesan yang begitu kelam bagi komunitas yahudi waktu perang dunia ke II, ini bukan camp pengungsian....Outside border hanyalah sebuah exsistensi keberadaan si kebudayaan massa, sebuah paham rasa aman yang harus bisa diterima secara fisik, tetapi masih menjadi pertanyaan besar secara naluri.....,kebebabasan selalu identik dengan ketidak batasan ruang gerak yang merdeka dalam norma dan etika hidup. Dibalik dinding ram kawat yang kuat tersebut....berjibun orang orang dalam klas klas tertentu... mulai dari sang Tuan Agung sampai pekerja kasar yang siap mengorbankan waktunya demi exsistensi Outside border tersebut. Seketika kita mungkin tercengan, ketika pertanyaan sederhana muncul...BUAT APA ADA OUTSIDE BORDER? lagi lagi jawaban yang kita terima harus bisa dengan sabar kita cerna...ini bukan melulu melarang dunia luar untuk berinteraksi, bukan pula menahan gejolak untuk bersentuhan dengan alam dalam batas yang lebarnya tak lebih dari 10 cm. tapi ini adalah memberikan rasa aman dan rasa nyaman, memberikan ketegasan dan kejelasan akan keseriusan, menjaga gangguan gangguan yang datang dari luar.....Sangat kelabu jawaban tersebut, bahkan anak anak sekarang yang masih bersekolah dasarpun pasti bisa menebak....properti dan hak milik orang lain, ketika berdiri didaerah orang lain dan kemudian ada sedikit ketersinggungan menyangkut pengakuan akan sumberdaya, kapasitas diri, dan kepercayaan...maka yang terjadi adalah OUTSIDE BORDER kemudian berdiri.
Kontradiktif antara Positif dan negatif...disatu sisi kita harus terus melanjutkan hidup dengan melihat hal hal positif dan membiarkan mereka menari nari dalam otak dan benak kita, sekedar membiarkan tubuh yang tak mampu menahan beban karena alasan nyaman, tenang, penghargaan, penghormatan telah perlahan lahan tergeser....
Pikiran negatif yang lahir adalah.......kemudian kita akan saling menyalahkan, melihat sebuah dominasi sebagai sesuatu yang salah...tapi tidak berusaha berbaur untuk mencairkan dan membiarkan mengalir dengan baik, tetapi berusaha menggali di hulu sungai yang kemudian melahirkan banjir bah di muara...dan orang orangpun lagi lagi tercengang...Apa yang terjadi? sederhana sebenarnya jawabannya...kita terlalu banyak ditutupi mata hati kita dengan Ego, sehingga melulu tiap hari, yang ada dikepala kita hanyalah mencari dan menggali kesalahan dan aib orang lain dibalik Outside border tadi.
Nah...mungkin kita akan tertawa ataupun marah...semua depend on our deccission, which way we chose?.....
Buat diriku...Outside border seharusnya berdiri dalam benak dan kalbu tiap orang orang yang berada dalam lingkungan outside border itu sendiri........semakin berusaha keras melewati, semakin keras elastisitas tekanannya, berusaha semakin mengalir, maka yang ada adalah Tuan agung yang kokoh akan menghalang dengan perdana perdana menterinya. untuk itu sebagiknya ciptakan sendiri outside border dalam diri kita, sehingga kita bisa menekan ego kita, kemurnian pikiran kita, dan ketulusan cinta kita...Out side border seharusnya menjadi awal kebebasan kita yang terbang berkelebatan melewati tingginya kenyataan out side border dengan bisa memisahkan mana negatif dan mana positif sehingga kita mampu menjadi manusia bebas dalam pilihan kita tanpa menjadi produk kebudayaan massa.
This is for all friend and enemy...we should be just a human...No for friend and no for Enemy
Live is not about good and bad...but live is about how we take our way..to be friends or Enemy
No comments:
Post a Comment